Pengantar
Kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia. NRW merujuk pada air yang diproduksi namun tidak memberikan pendapatan bagi perusahaan, baik karena kebocoran, pencurian, kesalahan pencatatan meter, atau inefisiensi operasional. Tingginya tingkat NRW di Indonesia bukan hanya mencerminkan inefisiensi sistem, tetapi juga menimbulkan kerugian finansial yang besar serta membatasi kemampuan PDAM dalam memperluas layanan kepada masyarakat.
Seberapa Besar Tingkat Kehilangan Air di Indonesia?
Berdasarkan data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan BPPSPAM, rata-rata tingkat NRW nasional masih berkisar antara 30% hingga 35%. Ini berarti dari setiap 100 liter air yang diproduksi, hanya sekitar 65–70 liter yang berhasil ditagihkan ke pelanggan.
Jika merujuk pada data PDAM skala nasional:
-
Volume air hilang bisa mencapai 1,8 juta m³ per hari.
-
Dengan tarif rata-rata Rp 4.000/m³, maka kerugian finansial akibat NRW bisa mencapai Rp 7,2 miliar per hari atau lebih dari Rp 2,6 triliun per tahun.
Penyebab Kehilangan Air
Kehilangan air diklasifikasikan menjadi dua kategori utama:
1. Kehilangan Fisik (Physical Losses)
-
Kebocoran pipa transmisi dan distribusi, terutama pada jaringan lama dan tidak terawat.
-
Sambungan rumah yang rusak.
-
Tekanan air yang terlalu tinggi dalam sistem distribusi.
2. Kehilangan Komersial (Commercial Losses)
-
Pencurian air, seperti sambungan ilegal.
-
Meter pelanggan rusak atau tidak akurat.
-
Kesalahan pencatatan meter atau sistem penagihan.
-
Ketidaktepatan data pelanggan dan penggunaan air.
Dampak Kehilangan Air
-
Kerugian finansial: Pendapatan hilang yang seharusnya dapat digunakan untuk investasi perbaikan dan ekspansi layanan.
-
Keterbatasan pelayanan: PDAM kesulitan menambah cakupan layanan karena produksi air tidak optimal.
-
Pemborosan sumber daya: Energi dan bahan kimia untuk pengolahan air terbuang.
-
Menurunnya kepercayaan publik: Air sering tidak mengalir padahal PDAM terlihat memproduksi banyak air.
Solusi dan Strategi Pengurangan NRW
1. Audit dan Mapping Jaringan
-
Pemetaan dan audit teknis untuk mengetahui lokasi kebocoran dan potensi kehilangan lainnya.
2. District Metered Area (DMA)
-
Membagi jaringan ke dalam zona kecil untuk memudahkan pemantauan dan deteksi kebocoran.
3. Peremajaan Infrastruktur
-
Mengganti pipa tua dan meningkatkan kualitas material jaringan distribusi.
4. Manajemen Tekanan
-
Mengatur tekanan air agar tidak terlalu tinggi sehingga mengurangi kebocoran.
5. Peningkatan Akurasi Meteran
-
Kalibrasi dan penggantian meter air pelanggan yang sudah tua atau rusak.
6. Digitalisasi dan Smart Metering
-
Menggunakan teknologi digital untuk monitoring konsumsi air dan kebocoran secara real-time.
7. Pendidikan dan Penegakan Hukum
-
Kampanye publik untuk melawan pencurian air dan penertiban sambungan ilegal.
8. Kemitraan dan Dukungan Pemerintah
-
PDAM dapat bekerja sama dengan swasta atau BUMN untuk pendanaan proyek pengurangan NRW, serta mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat atau daerah.
Penutup
NRW bukan hanya masalah teknis, tetapi juga manajerial dan kebijakan. Penanganan NRW secara serius dapat meningkatkan pendapatan PDAM, memperluas pelayanan, dan meningkatkan keberlanjutan sumber daya air. Dengan strategi yang tepat dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, target penurunan NRW menjadi di bawah 20% secara nasional bukanlah hal yang mustahil.
